Sorot Indonesia – Kasus mobil listrik Xiaomi lagi-lagi terbakar, baterai disebut bukan jadi pemicu [titlebase] kembali mengemuka, memicu perhatian publik dan pihak berwenang. Insiden terbaru ini menyoroti masalah yang lebih dalam terkait keselamatan kendaraan listrik di China, terutama dengan semakin banyaknya mobil listrik yang beredar di pasaran.

Pemerintah China telah mengumumkan bahwa mulai 1 Juli 2026, dua standar keselamatan baru akan diterapkan untuk kendaraan energi baru, termasuk mobil listrik. Standar ini mencakup Persyaratan Keselamatan untuk Kendaraan Listrik dan Persyaratan Keselamatan Baterai Daya untuk Kendaraan Listrik. Langkah ini diambil untuk meningkatkan keselamatan kendaraan listrik yang semakin banyak diproduksi dan dijual, seperti yang dilaporkan oleh Asosiasi Produsen Mobil China (CAAM).

Baca juga:

Menurut data terbaru, produksi kendaraan energi baru di China mencapai 1,554 juta unit pada Mei 2026, dengan penjualan mencapai 1,496 juta unit. Namun, di tengah pertumbuhan pesat ini, masalah keselamatan menjadi perhatian serius. Dalam konteks ini, insiden mobil listrik Xiaomi terbakar membawa keprihatinan terkait kualitas dan keamanan baterai yang digunakan.

Belum lama ini, terungkap juga bahwa baterai bekas mobil listrik dijual kembali ke pasar gelap untuk digunakan pada kendaraan yang lebih murah. Praktik ilegal ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, mengingat sekitar 33 persen kasus kebakaran sepeda listrik berkaitan dengan modifikasi sistem kelistrikan yang tidak sesuai standar. Banyak dari baterai ini berasal dari kendaraan listrik bekas yang tidak melalui proses daur ulang yang benar.

Baca juga:

Di sisi lain, kesehatan baterai litium pada kendaraan listrik menjadi topik penting. Baterai ini memang dikenal lebih tahan lama dibandingkan jenis baterai lainnya, namun tetap memiliki masalah yang perlu diperhatikan. Sebuah bengkel spesialis motor listrik di Tangerang Selatan, EV Solution, menjelaskan bahwa kerusakan pada baterai litium baru biasanya muncul setelah 2-3 tahun pemakaian. Masalah ini dapat disebabkan oleh Battery Management System (BMS) yang tidak berfungsi dengan baik, yang dapat mempengaruhi performa kendaraan.

Selain itu, kebiasaan pemilik kendaraan listrik dalam memperlakukan baterai juga dapat mempercepat kerusakan. Misalnya, membiarkan baterai terisi penuh 100 persen untuk waktu yang lama atau sering menggunakan pengisian cepat dapat mengurangi umur baterai. Oleh karena itu, banyak pabrikan merekomendasikan agar pengisian dilakukan hingga 80-90 persen untuk menjaga kesehatan baterai.

Baca juga:

Dalam konteks perkembangan teknologi, Xiaomi juga baru-baru ini memperkenalkan lengan robot pengisi daya untuk mobil listrik yang dapat melakukan pengisian secara otomatis. Meskipun teknologi ini menarik perhatian karena menghidupkan kembali konsep yang pernah ditinggalkan oleh Tesla, keselamatan kendaraan listrik tetap menjadi prioritas utama di tengah insiden mobil listrik Xiaomi lagi-lagi terbakar, baterai disebut bukan jadi pemicu [titlebase].

Keseluruhan situasi ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi kendaraan listrik terus berkembang, tantangan terkait keselamatan dan kesehatan baterai harus menjadi perhatian utama. Dengan penerapan standar keselamatan baru dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan baterai, diharapkan insiden seperti kebakaran mobil listrik dapat diminimalisir di masa mendatang.