Sorot IndonesiaPiala Dunia 2026 menghadirkan berbagai drama, namun selain polemik kemenangan atas Mesir, citra Argentina diperburuk isu rasisme suporter mereka. Timnas Argentina, yang merupakan juara bertahan, kini menjadi pusat perhatian bukan hanya karena keberhasilan mereka mencapai semifinal, tetapi juga karena sejumlah kontroversi yang melibatkan keputusan wasit serta perilaku suporter yang dianggap tidak pantas.

Lebih dari enam juta orang telah menandatangani petisi daring yang menuntut agar Argentina dikeluarkan dari turnamen ini. Petisi ini bukan hanya mencerminkan kekecewaan terhadap keputusan-keputusan wasit yang dianggap menguntungkan Argentina, tetapi juga mencerminkan sentimen negatif terhadap sikap rasis yang ditunjukkan oleh sebagian suporter mereka.

Baca juga:

Kontroversi ini bermula setelah kemenangan Argentina atas Mesir, di mana keputusan wasit untuk menganulir gol Mesir setelah tinjauan VAR menuai protes keras. Di sisi lain, gol penentu kemenangan Argentina tetap disahkan meskipun terdapat protes dari kubu Mesir. Tindakan ini memicu tudingan bahwa FIFA memberikan perlakuan istimewa kepada Argentina, terutama kepada Lionel Messi, yang dianggap sebagai ikon sepak bola dunia.

Dalam konteks Amerika Latin, Argentina tidak mendapatkan dukungan dari negara-negara tetangganya. Banyak penggemar sepak bola di kawasan ini lebih memilih untuk mendukung tim mana pun yang melawan Argentina. Hal ini disebabkan oleh persepsi bahwa beberapa orang Argentina memiliki pandangan superior dibandingkan negara-negara lain di kawasan tersebut. Populasi Argentina yang dominan terdiri dari keturunan Eropa, terutama Spanyol dan Italia, semakin memperkuat stereotip ini.

Selain itu, perilaku rasis dan arogan yang ditunjukkan oleh beberapa suporter Argentina, termasuk insiden-insiden yang viral di media sosial, memperburuk citra tim nasional mereka. Dalam beberapa pertandingan, suporter Argentina terlihat menyanyikan lagu-lagu yang menyebarkan pesan rasis, serta melakukan tindakan penghinaan terhadap penggemar dari negara lain. Insiden-insiden ini semakin menguatkan anggapan bahwa Argentina adalah negara dengan sikap rasis yang kental, yang membuat banyak orang, terutama di Amerika Latin, enggan untuk bersimpati.

Argumen lainnya yang membuat sentimen negatif ini semakin kuat adalah anggapan bahwa Argentina mendapatkan perlakuan istimewa dalam hal keputusan wasit. Sejak awal turnamen, banyak pengamat menyoroti bracket Argentina yang dianggap lebih mudah dibandingkan dengan tim-tim lain. Hal ini memicu dugaan bahwa Argentina tidak hanya mengandalkan kemampuan di lapangan, tetapi juga bantuan dari FIFA.

Sejak Piala Dunia 2022, ketika Argentina meraih gelar juara, sikap publik terhadap tim ini telah berubah. Dulu, mereka dipuja sebagai pemenang yang mengakhiri dominasi Eropa, namun kini, dengan adanya berbagai kontroversi dan sentimen negatif, dukungan terhadap Argentina mulai memudar. Banyak orang berharap adanya juara baru dalam Piala Dunia 2026, dan harapan ini semakin diperkuat oleh perilaku problematik yang ditunjukkan oleh pemain dan suporter Argentina.

Argentina, saat ini, seolah terjebak dalam paradoks. Di satu sisi, mereka adalah salah satu kekuatan terbesar dalam sepak bola dunia dan memiliki pemain-pemain berkualitas tinggi, namun di sisi lain, mereka harus menghadapi kemarahan publik yang terpicu oleh berbagai kontroversi. Dengan segala tuduhan mengenai favoritisme dan sikap rasis, Argentina mungkin harus menemukan cara untuk memperbaiki citra mereka di mata dunia, terutama dalam konteks Piala Dunia yang penuh dengan harapan akan keadilan dan fair play.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.