Sorot Indonesia – Ruben Onsu baru saja pulang dari Umrah dan merespons dengan santai kabar mengenai aduan Sarwendah terkait nafkah dan hak asuh anak ke KPAI. Dalam pernyataannya, Ruben menegaskan bahwa dirinya tidak merasa cemburu terhadap hubungan Sarwendah dengan kekasihnya, Giorgio Antonio, meskipun ia mengakui ada beberapa alasan yang membuatnya merasa perlu memberikan peringatan kepada Giorgio.
Ruben menjelaskan bahwa peringatan tersebut bukan didasari oleh rasa cemburu, melainkan kesadaran akan posisi dan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Ia menekankan pentingnya menjaga batasan dalam hubungan mereka, terutama ketika menyangkut anak-anak. “Silakan jika ibunya happy, tapi porsinya jangan lo makan,” ujar Ruben saat berbicara di Nanda Persada.
Di tengah perdebatan mengenai hak asuh anak, Ruben mengungkapkan kesedihannya karena kesulitan untuk bertemu dengan anak-anaknya. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, ia sempat bertemu dengan mereka di bandara, namun kini merasa terpisah lagi tanpa ada komunikasi yang lancar. Ruben menyatakan bahwa sebagai seorang ayah, hak untuk bertemu anak seharusnya tetap dihormati meskipun hubungan dengan mantan pasangan telah berakhir.
Merasa haknya tidak terpenuhi, Ruben mengambil langkah drastis dengan menghentikan pemberian nafkah bulanan sebesar Rp225 juta. Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap situasi yang dirasakannya tidak adil. Meskipun dalam situasi yang sulit, Ruben tetap berusaha untuk mencari kesempatan bertemu dengan anak-anaknya kembali.
Isu mengenai nafkah dan hak asuh anak ini kembali memanas setelah munculnya spekulasi di media sosial terkait perceraian Ruben dan Sarwendah yang sudah terjadi sejak 24 September 2024 lalu. Banyak yang mempertanyakan mengapa Ruben, sebagai penggugat perceraian, tetap memperjuangkan hak asuh anak-anak mereka pasca perceraian. Dalam mengatasi berbagai asumsi yang berkembang, Ruben menjelaskan bahwa perceraian mereka adalah hasil kesepakatan bersama. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk bercerai tidak diambil secara sepihak, melainkan setelah mereka berdua sepakat untuk mengakhiri pernikahan yang dirasa sudah tidak bisa dipertahankan.
Ruben Onsu juga menanggapi tuduhan bahwa ia adalah pihak yang selalu disalahkan dalam proses perceraian. Ia menjelaskan bahwa proses perceraian dilakukan dengan cara yang baik dan penuh komunikasi. “Kami berdua sudah duduk bersama dan sepakat, siapa yang mau mendaftar? Ya sudah, aku saja,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan untuk bercerai adalah hasil dari diskusi yang matang antara kedua belah pihak, bukan hanya karena keinginan satu pihak saja.
Menghadapi situasi yang rumit ini, Ruben Onsu berharap agar semua pihak bisa memahami posisinya sebagai seorang ayah yang berjuang untuk haknya. Ia ingin agar haknya untuk bertemu dengan anak-anak dapat dihormati, meskipun situasi pribadi yang dihadapinya sangat menantang. Ruben Onsu pun berharap agar komunikasi dapat berjalan lebih baik ke depannya agar ia bisa terus berperan dalam kehidupan anak-anaknya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
