Sorot Indonesia – Dalam upaya memerangi kesenjangan ekonomi China, Xi Jinping ambil langkah keras untuk mengatasi permasalahan yang semakin mendesak dalam pasar kerja negara tersebut. Jumlah pekerja lepas di China telah melonjak hingga mencapai 320 juta orang pada tahun 2026, mencerminkan pergeseran signifikan dari pekerjaan formal ke ekonomi gig. Fenomena ini muncul sebagai dampak dari perlambatan ekonomi dan perubahan industri yang memaksa banyak orang beralih dari pekerjaan tetap ke kerja lepas.

Pekerja gig di China, meskipun membantu menciptakan pendapatan bagi banyak orang, menghadapi tantangan serius terkait dengan jaminan sosial dan sistem pensiun nasional. Dalam konteks ini, Xi Jinping ambil langkah keras perangi kesenjangan ekonomi China dengan mendorong reformasi sistem perlindungan sosial agar pekerja fleksibel dapat lebih mudah ikut serta. Hal ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan dana pensiun dan stabilitas ekonomi jangka panjang.

Baca juga:

Menurut Pusat Riset Bentuk Ketenagakerjaan Baru di China, pertumbuhan jumlah pekerja tanpa kontrak penuh waktu mencapai sekitar 44 persen dari total tenaga kerja di negara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya pekerja dengan latar belakang pendidikan rendah yang terlibat dalam ekonomi gig, tetapi juga lulusan universitas dan mantan karyawan sektor teknologi. Krisis di sektor konstruksi dan penerapan otomatisasi di industri manufaktur turut berkontribusi pada pergeseran ini.

Namun, tantangan yang dihadapi adalah rendahnya tingkat partisipasi pekerja lepas dalam program jaminan sosial. Banyak pekerja gig yang lebih memilih untuk memprioritaskan pendapatan saat ini daripada menyisihkan sebagian untuk masa depan, sehingga menambah tekanan pada sistem pensiun yang sudah rentan. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) telah merekomendasikan agar negara-negara, termasuk China, memperluas perlindungan sosial untuk pekerja dengan pola kerja baru ini.

Dalam konteks yang lebih luas, Xi Jinping ambil langkah keras perangi kesenjangan ekonomi China juga terlihat dalam kebijakan luar negeri dan investasi infrastruktur, terutama melalui Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra. China berkomitmen untuk berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat hubungan dan menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman pembangunan China memberikan inspirasi berharga bagi negara-negara lain dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Selain itu, di forum internasional, China telah menyerukan upaya untuk menjembatani kesenjangan dalam kecerdasan buatan (AI) melalui dialog global PBB. Ini menunjukkan bahwa pendekatan China terhadap pembangunan tidak hanya terfokus pada aspek domestik, tetapi juga berupaya membangun kapasitas global dalam teknologi dan tata kelola AI.

Ke depan, tantangan bagi pemerintah China adalah bagaimana mengelola dan menyesuaikan kebijakan ekonomi dan sosial untuk memastikan bahwa pertumbuhan yang dihasilkan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Xi Jinping ambil langkah keras perangi kesenjangan ekonomi China merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan dapat tercapai, meskipun perubahan struktural di pasar kerja terus berlanjut.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.