Sorot Indonesia – Menkeu AS klaim Iran belum bisa jual minyak ke pembeli selain Tiongkok. Pencabutan blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat (AS) baru-baru ini membawa dampak signifikan bagi industri minyak Iran. Iran, yang selama ini terjebak dalam sanksi internasional, kini melaporkan lonjakan ekspor minyak mentahnya setelah blokade tersebut dicabut pada 17 Juni 2026. Menurut laporan, Iran berhasil mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak dalam waktu singkat, bahkan diperkirakan mencapai 50 juta barel, menghasilkan pendapatan sekitar 3,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 62 triliun.

Pernyataan dari Speaker Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa negara tersebut kini menjual minyaknya 20 persen lebih mahal dibandingkan harga sebelum konflik. Hal ini menandakan pemulihan bagi ekonomi Iran yang sebelumnya terpuruk akibat sanksi. Namun, Menkeu AS Scott Bessent menegaskan bahwa meskipun ada peningkatan ekspor, Iran tetap terisolasi di pasar internasional, dengan hanya satu negara, Tiongkok, yang bersedia membeli minyaknya. Menurut Bessent, kekhawatiran akan sanksi dari AS membuat negara-negara lain enggan bertransaksi dengan Teheran.

Baca juga:

Data dari perusahaan pelacak kapal tanker, TankerTrackers.com, menunjukkan bahwa Iran berhasil memproduksi dan menjual minyak mentahnya secara signifikan setelah mendapatkan izin dari Departemen Keuangan AS. Meskipun ekspor melonjak, Bessent mencatat bahwa Iran terpaksa menjual minyaknya dengan harga diskon untuk menarik pembeli di tengah ketidakpastian pasar global.

Dalam konteks ini, Iran berusaha memastikan kedaulatan di Selat Hormuz, jalur vital untuk perdagangan minyak dunia, dengan Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan haknya atas perairan tersebut. Dalam kesepakatan diplomatik yang dicapai, kedua negara juga sepakat untuk melakukan negosiasi selama 60 hari untuk mencapai perjanjian damai permanen, namun situasi di lapangan tetap dinamis.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent mengalami penurunan tajam, mencapai kisaran 73 dolar AS per barel, setelah sebelumnya menyentuh 118 dolar AS. Penurunan harga ini dipicu oleh harapan akan pemulihan pasokan dari Iran dan stabilitas yang lebih besar di kawasan tersebut. Analis pasar menilai bahwa situasi ini menunjukkan dampak dari kebijakan sanksi AS yang masih berlanjut, meski ada kesepakatan baru antara AS dan Iran.

Secara keseluruhan, meskipun Iran berhasil meningkatkan ekspor minyaknya, Menkeu AS klaim Iran belum bisa jual minyak ke pembeli selain Tiongkok. Ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh Iran dalam memulihkan hubungan perdagangan di pasar global masih cukup besar. Iran harus mengatasi kekhawatiran negara-negara lain yang masih terikat dengan sanksi AS untuk dapat kembali menjadi pemain utama di pasar energi dunia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.