Sorot Indonesia – Harga minyak menanjak setelah pertemuan AS-Iran gagal [titlebase], menciptakan ketidakpastian di pasar energi global. Pada 24 Juli 2026, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional ditutup pada level US$ 96,78 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di angka US$ 89,31 per barel. Meskipun mengalami penurunan hampir 4% pada perdagangan terakhir, harga minyak mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang minggu ini, dengan minyak mentah AS menguat sekitar 8% dan Brent melonjak hampir 10%.

Ketegangan yang membara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus berlanjut, terutama setelah serangan militer AS yang beruntun menargetkan fasilitas-fasilitas strategis di Iran. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) melaporkan telah melaksanakan serangan ke-13 berturut-turut, yang menyasar pusat komando militer, fasilitas penyimpanan drone, serta infrastruktur pertahanan maritim Iran. Serangan ini dimaksudkan untuk mengurangi ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pengiriman minyak terpenting di dunia.

Baca juga:

Situasi semakin memburuk ketika kelompok Houthi dari Yaman, yang didukung oleh Iran, mengancam akan menyerang kapal-kapal tanker yang melintasi Laut Merah. Selain itu, pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menilai Iran tidak serius dalam menjalin kesepakatan damai, membuat pasar semakin gelisah. Rubio menyebutkan bahwa Iran telah melanggar komitmen dalam nota kesepahaman yang telah disepakati, dan jika situasi ini terus berlanjut, AS akan mempertimbangkan berbagai opsi militer untuk mengatasi ancaman tersebut.

Dengan ketidakpastian yang terus melanda, harga minyak dunia diperkirakan akan terus berfluktuasi. Lonjakan harga yang terjadi baru-baru ini juga dipicu oleh serangan militer yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi. Serangan ini mengancam jalur ekspor minyak dari negara tersebut, yang sebelumnya telah dialihkan ke Laut Merah untuk menghindari gangguan di Selat Hormuz.

Data menunjukkan bahwa harga minyak sempat mencapai lebih dari 100 dolar AS per barel sebelum mengalami penurunan. Namun, dengan meningkatnya ketegangan dan ancaman terhadap pasokan energi, banyak analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi. Analis dari TD Securities menyatakan bahwa fundamental pasar yang semakin ketat dan risiko gangguan pasokan di Laut Merah akan mendukung harga minyak di kisaran US$ 90-100 per barel.

Dengan situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, pelaku pasar di seluruh dunia akan terus memantau perkembangan konflik ini dengan seksama. Harga minyak menanjak setelah pertemuan AS-Iran gagal [titlebase] mencerminkan dampak besar dari ketegangan geopolitik terhadap pasar energi. Ketidakpastian ini tidak hanya mempengaruhi harga minyak, tetapi juga biaya energi di berbagai negara, seperti yang terlihat di Inggris, di mana harga gas dan bensin mengalami kenaikan yang signifikan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.