Sorot Indonesia – Warren Buffett, nama yang sudah tidak asing lagi dalam dunia investasi, baru-baru ini menjadi sorotan kembali dengan langkah berani Berkshire Hathaway dalam melakukan pembelian kembali saham senilai sekitar $8,5 miliar. Ini menandai salah satu periode repurchase yang paling agresif dalam sejarah perusahaan, yang berlangsung dari sekitar 15 April hingga 14 Juli 2026. Dalam konteks kepemimpinan baru Greg Abel, langkah ini menunjukkan bahwa saham Berkshire dianggap undervalued.
Setelah hampir dua tahun menghentikan program pembelian kembali sahamnya, Berkshire Hathaway kembali melanjutkan program tersebut pada 4 Maret 2026. Pada kuartal pertama tahun 2026, perusahaan hanya melakukan pembelian kembali saham senilai sekitar $235 juta. Namun, setelah itu, program ini mengalami lonjakan signifikan yang diestimasikan UBS mencapai $8,5 miliar.
Dalam periode pembelian kembali ini, jumlah saham Kelas A yang beredar berkurang sekitar 11.000, yang jika dihitung berdasarkan harga pasar saat ini, bisa mencapai total pembelian kembali antara $5 miliar hingga $11 miliar. UBS memperkirakan diskon terhadap nilai intrinsik sekitar 8%, menandakan bahwa saham Berkshire saat ini mungkin lebih murah dari yang sebenarnya.
Perubahan kepemimpinan ini juga menarik perhatian banyak investor yang skeptis tentang apakah disiplin modal legendaris yang dibangun oleh Warren Buffett akan tetap bertahan setelah kepergiannya. Greg Abel, yang kini memegang kendali, tidak hanya mengizinkan pembelian kembali saham, tetapi juga menunjukkan komitmennya dengan membeli saham Berkshire senilai $15 juta, yang setara dengan gaji tahunan pasca pajaknya. Ini menunjukkan keyakinan Abel terhadap prospek perusahaan di masa depan.
Di sisi lain, perubahan signifikan lainnya terlihat pada portofolio investasi Berkshire yang kini bernilai $355 miliar. Greg Abel telah mengurangi 16 posisi saham dan memperkecil enam posisi lainnya. Namun, satu kesamaan yang masih ada antara Abel dan Buffett adalah kecenderungan untuk mengonsentrasikan modal investasi ke dalam beberapa ‘ide terbaik’. Saat ini, sekitar 63% dari portofolio tersebut, setara dengan $222,3 miliar, diinvestasikan dalam hanya lima saham unggulan.
Beberapa posisi investasi ini tidak asing bagi para pemegang saham lama, termasuk Coca-Cola dan American Express yang telah menjadi bagian dari portofolio sejak tahun 1988 dan 1991. Salah satu alasan mengapa Abel tidak menjual posisi-posisi ini adalah keuntungan yang terus mengalir dari investasi tersebut, dengan imbal hasil tahunan yang sangat tinggi.
Berbeda dengan Warren Buffett yang dikenal kurang berinvestasi di saham teknologi, Abel tampaknya lebih terbuka dengan peluang di sektor ini. Meskipun Buffett mulai berinvestasi di Apple, Abel berusaha memposisikan Berkshire untuk memanfaatkan masa depan yang didorong teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun di bawah kepemimpinan baru, prinsip dasar Buffett tentang nilai tetap menjadi pedoman utama.
Dengan langkah-langkah strategis yang diambil oleh Greg Abel dan pengembalian aktif dalam pembelian kembali saham, Berkshire Hathaway menunjukkan bahwa mereka tetap berada di jalur yang benar di tengah perubahan kepemimpinan. Ini adalah momen penting bagi para investor yang kini menantikan bagaimana strategi Abel akan mempengaruhi arah perusahaan ke depan. Warren Buffett mungkin telah pensiun, tetapi warisannya dalam investasi dan disiplin modal terus hidup dalam keputusan yang diambil oleh penerusnya.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
