Sorot Indonesia – Presiden Prabowo Subianto mendorong transparansi dalam pengelolaan data investasi dengan meminta Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, untuk membuka data investasi ke publik. Hal ini diungkapkan dalam pertemuan terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta pada 27 Juli 2026. Prabowo percaya bahwa keterbukaan informasi akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang investasi.
Dalam rapat tersebut, Prabowo menekankan pentingnya data yang jelas dan akurat dalam mendukung keputusan investasi yang strategis. “Kita perlu memastikan bahwa setiap kebijakan investasi yang diambil didasarkan pada data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Prabowo. Ia menginginkan agar data yang dibuka dapat diakses oleh masyarakat luas, sehingga mereka dapat melihat langsung bagaimana investasi dijalankan dan dampaknya terhadap ekonomi.
Sebelumnya, dalam konteks yang lebih luas, Prabowo juga mengungkapkan perlunya investasi besar-besaran di sektor perkeretaapian. Ia menyatakan bahwa PT Kereta Api Indonesia (KAI) harus berfokus pada pelayanan masyarakat, bukan hanya mengejar keuntungan. Prabowo menegaskan, kereta api seharusnya menjadi instrumen demokratisasi ekonomi yang dapat menghubungkan daerah-daerah yang membutuhkan akses transportasi yang lebih baik.
Dalam acara peresmian pemugaran Stasiun Semarang Tawang, Prabowo mengungkapkan bahwa masih banyak lintasan kereta api yang perlu dibangun dan diperbaiki. “Saya mendengar masih ada ribuan lintasan yang perlu kita bangun. Oleh karena itu, saya titip pesan kepada KAI untuk berinvestasi lebih banyak di bidang ini,” ujarnya. Ia juga meminta agar pembangunan pintu perlintasan dilakukan sesuai prosedur untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Selain itu, Prabowo juga mengarahkan perhatian pada proyek Trans-Sumatra Railway yang akan menghubungkan Lampung hingga Aceh. Dalam hal ini, ia meminta agar Menteri Perhubungan dan Dirut KAI menyanggupi instruksinya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur tersebut.
Dalam konteks yang lebih besar, Organisasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (POPSI) juga menekankan pentingnya transparansi data dalam sektor pertanian. POPSI mengapresiasi keterbukaan CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, namun mereka mendesak agar data terkait harga ekspor dan harga acuan pasar dibuka untuk publik dan diverifikasi oleh pihak independen. Mereka percaya bahwa pengelolaan ekspor harus berbasis data agar tidak terjadi manipulasi yang merugikan petani.
Prabowo minta Menteri Rosan buka data investasi ke publik [titlebase] diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem investasi yang lebih transparan dan akuntabel di Indonesia. Dengan adanya keterbukaan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami dan mengawasi kebijakan pemerintah dalam pengelolaan investasi, sehingga dapat berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
