Sorot Indonesia – Dalam dunia cryptocurrency trading, pergeseran besar sedang terjadi. Para trader kini mengalihkan perhatian mereka dari Bitcoin menuju saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), termasuk perusahaan-perusahaan chip dan platform seperti ChatGPT. Fenomena ini disebabkan oleh ketidakstabilan harga Bitcoin yang drastis, yang dipicu oleh ancaman tarif dari Presiden Trump terhadap China, menjadikan investasi di sektor AI sebagai pilihan yang lebih aman dan menjanjikan.

Daniel Koss, seorang investor, menjelaskan bahwa potensi AI untuk merubah berbagai industri terlalu menarik untuk diabaikan. Setelah terjadinya penurunan harga Bitcoin yang signifikan dari puncaknya di lebih dari $126.000 pada bulan Oktober 2025, banyak trader menjual aset kripto mereka dan beralih ke saham AI. Bahkan, Ryan Ho, pendiri salah satu aplikasi trading, juga memindahkan banyak kepemilikan setelah melihat permintaan yang lemah dan ketidakpastian pasar.

Baca juga:

Dengan kemudahan akses ke saham AI melalui berbagai platform trading, banyak trader sekarang melihat investasi ini sebagai langkah yang lebih cerdas dibandingkan dengan cryptocurrency trading yang volatil.

Sementara itu, di pasar stabilcoin, BlockTower baru saja meluncurkan ZARU, mata uang stabil yang didukung rand. Ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk perusahaan-perusahaan yang terhambat oleh regulasi yang melarang transaksi kripto lintas batas. Namun, rancangan manual baru dari Kementerian Keuangan dan Bank Sentral Afrika Selatan berpotensi menghalangi perusahaan lokal untuk menggunakan stabilcoin dalam transaksi internasional, yang dapat memperlambat adopsi teknologi ini di negara tersebut.

Di sisi lain, harga XRP, salah satu cryptocurrency terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, menunjukkan penurunan yang signifikan. XRP masih terjebak dalam pola bearish yang dikenal sebagai ‘death cross’, di mana harga cenderung menurun. Kurangnya kejelasan terkait Undang-Undang Kejelasan Aset Digital yang diharapkan dapat memberikan kerangka hukum formal bagi aset kripto di AS membuat banyak trader ragu. Dengan kemunduran ini, XRP mencatatkan performa terburuk di antara sepuluh besar cryptocurrency, menunjukkan bahwa cryptocurrency trading di pasar saat ini penuh tantangan.

Volatilitas di indeks US100 dan S&P 500 juga memberikan peluang bagi trader CFD untuk mempertimbangkan lebih dari sekadar saham. Pergerakan signifikan di indeks ini tidak hanya mempengaruhi pasar saham tetapi juga dapat berimbas pada pasar forex dan harga emas. Ketidakpastian pasar, yang diukur oleh indeks VIX, sering kali mendorong investor untuk beralih ke aset aman seperti dolar AS atau emas, menciptakan dinamika baru dalam cryptocurrency trading.

Dengan semua pergeseran ini, penting bagi trader untuk menyesuaikan strategi mereka dan tetap waspada terhadap perubahan kondisi pasar yang cepat. Meskipun Bitcoin dan cryptocurrency lainnya masih memiliki tempat di pasar, tren terbaru menunjukkan bahwa saham AI dan teknologi mungkin menjadi pilihan yang lebih menarik di masa depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.