Sorot Indonesia – SEMARANG — Gelombang penolakan terhadap rencana pengembangan energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ungaran kembali menguat. Warga Lereng Gunung Ungaran Tolak Rencana Geothermal Khawatir Ganggu Sistem Hidrologi menjadi sorotan utama dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan yang mungkin timbul dari proyek tersebut. Penolakan ini bukan sekadar sikap sesaat, melainkan bentuk keprihatinan mendalam warga yang merasa keberlangsungan hidup mereka terancam.
Warga yang tinggal di lereng Gunung Ungaran mengaku cemas proyek geothermal dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, khususnya terhadap sistem hidrologi dan ketersediaan air di wilayah sekitar. Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan. Masyarakat melihat langsung persoalan yang terjadi pada proyek geothermal di kawasan lain, termasuk Dieng, yang dinilai belum sepenuhnya terselesaikan hingga kini.
Belajar dari Pengalaman Dieng
Warga lereng Gunung Ungaran, Rengga Dumadi, mengungkapkan bahwa persoalan lingkungan yang dikaitkan dengan aktivitas geothermal di Dieng masih menjadi bayang-bayang menakutkan bagi masyarakat. Menurutnya, sejumlah kerusakan alam dan gangguan sistem hidrologi di kawasan tersebut belum tuntas ditangani, sehingga warga khawatir hal serupa akan terulang di Gunung Ungaran.
“Yang jelas geothermal itu bagi masyarakat sangat menakutkan. Karena kasus yang di Dieng itu kasus-kasusnya enggak ada terselesaikan. Kerusakan alamnya, sistem hidrologinya terpengaruh dan lain sebagainya,” kata Rengga kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Ia mempertanyakan rencana pengembangan proyek geothermal di Gunung Ungaran dan Telomoyo apabila persoalan serupa di wilayah lain masih menjadi kekhawatiran masyarakat. Menurutnya, menambah proyek baru di tengah persoalan yang belum selesai sama saja dengan menambah kerusakan alam yang harus ditanggung generasi mendatang.
“Kalau misalnya terus bangun lagi di Ungaran, bangun lagi di Telomoyo, nanti apa yang terjadi? Mosok menambah kerusakan-kerusakan alam itu,” ujarnya dengan nada prihatin.
Fungsi Vital Gunung Ungaran bagi Tiga Wilayah
Kekhawatiran warga tidak hanya berkaitan dengan lokasi proyek. Menurut Rengga, Gunung Ungaran memiliki fungsi penting bagi wilayah di sekitarnya sehingga dampak terhadap kawasan tersebut berpotensi dirasakan masyarakat yang lebih luas. Ia menyebut setidaknya tiga wilayah besar akan terkena imbasnya, yakni Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang.
Dalam konteks inilah Warga Lereng Gunung Ungaran Tolak Rencana Geothermal Khawatir Ganggu Sistem Hidrologi menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal proyek energi, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup banyak orang yang bergantung pada kondisi lingkungan pegunungan.
Ancaman terhadap Daerah Tangkapan Air
Selain kerusakan lingkungan, Rengga menyoroti potensi gangguan terhadap sistem hidrologi dan ketersediaan air. Ia menjelaskan bahwa kawasan pegunungan memiliki fungsi penting sebagai daerah tangkapan air, sehingga setiap rencana pembangunan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan secara menyeluruh.
Rengga juga mencontohkan sejumlah risiko yang menurutnya perlu diperhitungkan sebelum proyek geothermal dikembangkan di kawasan pegunungan. Pengalaman di Dieng, Wonosobo, menjadi perhatian serius masyarakat, mulai dari kebocoran gas, pipa meledak, hingga penurunan debit air.
“Misalnya kalau di Dieng terjadi, gas bocor, pipa meledak dan lain sebagainya. Air jadi turun. Padahal itu kan daerah-daerah tangkapan hujan,” ujarnya.
Bagi masyarakat, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut keberadaan proyek energi. Mereka juga mempertanyakan dampaknya terhadap keberlangsungan kehidupan warga yang bergantung pada kondisi lingkungan Gunung Ungaran, mulai dari pertanian, sumber air bersih, hingga ekosistem secara keseluruhan.
Aksi Jalan Kaki dari Gedong Songo ke Semarang
Penolakan terhadap rencana geothermal sebelumnya juga disampaikan melalui aksi jalan kaki dari kawasan Candi Gedong Songo menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah. Aksi tersebut berlangsung dalam rangkaian Hari Tani 2026. Satu warga melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, sementara Rengga bersama dua warga lainnya turut mendampingi sepanjang perjalanan.
“Itu adalah bentuk kepedulian kita terhadap alam. Bentuk keprihatinan kita terhadap alam. Alam mau dirusak, direwangi mlaku hanya untuk menyampaikan aspirasi kita supaya didengar oleh masyarakat,” katanya.
Ia menyebut perjalanan dari Gedong Songo menuju Semarang bukan sesuatu yang mudah. Peserta harus berjalan dalam kondisi panas pada siang hari dan menghadapi udara dingin pada malam hari. Kesungguhan itu, menurutnya, menunjukkan bahwa penolakan warga bukanlah sikap yang main-main.
Penolakan Dipastikan Berlanjut
Rengga memastikan masyarakat di lereng Gunung Ungaran belum akan menghentikan penolakan terhadap rencana pengembangan geothermal. Ia menegaskan warga akan terus menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi dampak lingkungan dari proyek tersebut.
“Oh, pasti. Pasti. Iya, pasti kami akan menolak,” tegasnya.
Warga juga berencana kembali menggelar kegiatan di kawasan Gedong Songo pada 28 Oktober mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dalam kegiatan itu, mereka berencana menyuarakan apa yang disebut sebagai “Sumpah Bumi” sebagai bentuk komitmen menjaga alam.
“Gedong Songo itu kan tempat yang paling seksi untuk kami gerak. Gedong Songo itu kan sudah internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, gerakan warga tidak hanya akan berfokus pada kawasan Gedong Songo, tetapi juga menyasar wilayah lain seperti Telomoyo. Dengan demikian, Warga Lereng Gunung Ungaran Tolak Rencana Geothermal Khawatir Ganggu Sistem Hidrologi menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk menjaga kawasan pegunungan di Jawa Tengah.
Bukan Sekadar Menolak Investasi
Rengga menegaskan, penolakan warga bukan semata-mata ditujukan untuk menghambat investasi. Menurutnya, sikap tersebut merupakan bentuk kekhawatiran masyarakat terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan warga di sekitar kawasan Gunung Ungaran.
“Kalau kita enggak mencintai alam, kita enggak ngerawat alam, terus mau apa? Mau hidup di mana?” kata Rengga.
Pernyataan itu menggambarkan bahwa isu ini menyentuh persoalan mendasar tentang keberlanjutan hidup. Warga tidak menentang pembangunan, tetapi menuntut agar setiap rencana pembangunan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Kesimpulan
Penolakan Warga Lereng Gunung Ungaran Tolak Rencana Geothermal Khawatir Ganggu Sistem Hidrologi mencerminkan kekhawatiran yang serius dan berdasar terhadap potensi dampak lingkungan dari proyek energi panas bumi. Pengalaman dari Dieng menjadi pelajaran berharga bahwa kerusakan alam dan gangguan sistem hidrologi bukanlah persoalan sederhana yang bisa diabaikan. Dengan fungsi Gunung Ungaran sebagai daerah tangkapan air bagi Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang, setiap keputusan pembangunan harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan warga. Aksi jalan kaki dari Gedong Songo ke Semarang serta rencana “Sumpah Bumi” pada 28 Oktober menjadi bukti bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam. Dialog yang melibatkan warga, pemerintah, dan pengembang menjadi kunci agar pembangunan energi terbarukan tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan dan hak hidup masyarakat sekitar.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
