Sorot Indonesia – Dalam latihan RIMPAC 2026 yang berlangsung di perairan Hawaii, USS Peleliu (LHA 5), sebuah kapal serbu amfibi kelas Tarawa, mengalami nasib tragis ketika menjadi target dalam latihan SINKEX yang dramatis. Pada tanggal 17 Juli 2026, kapal ini diserang oleh berbagai jenis senjata, termasuk serangan dari drone dan peluru kendali, menandai akhir dari lebih dari 35 tahun pengabdiannya dalam angkatan laut.

USS Peleliu, yang memiliki bobot hampir 40.000 ton, dikenal sebagai kapal terbesar di kelasnya dan berfungsi sebagai platform untuk berbagai operasi, baik militer maupun kemanusiaan di seluruh dunia. Sejak diresmikan, kapal ini telah melayani dalam berbagai misi, termasuk yang terkait dengan konflik di Timur Tengah dan bantuan bencana di berbagai negara.

Baca juga:

Pada latihan RIMPAC kali ini, kapal tersebut tidak hanya menjadi sasaran bagi kapal selam Los Angeles-class USS Columbia yang menembakkan dua peluru kendali UGM-84 Harpoon, tetapi juga diserang oleh drone permukaan yang menambah kompleksitas serangan. Menurut laporan, drone-drone ini berfungsi untuk menguji efektivitas teknologi baru dalam pertempuran laut modern.

Latihan SINKEX adalah bagian dari RIMPAC, yang melibatkan 30 negara, 30 kapal, dan lebih dari 30.000 personel. Latihan ini bertujuan untuk menguji taktik, teknik, dan prosedur yang digunakan oleh angkatan laut dari berbagai negara untuk beroperasi secara bersama-sama. RIMPAC 2026 juga menandakan momen penting bagi kerjasama internasional di bidang pertahanan, dengan berbagai negara berpartisipasi dalam serangan terhadap target yang sama.

USS Peleliu (LHA 5) adalah salah satu kapal terakhir dari kelas Tarawa, yang diakhiri masa operasinya pada tahun 2015. Nama Peleliu sendiri diambil dari Pertempuran Peleliu yang terjadi pada tahun 1944, yang merupakan salah satu pertempuran paling brutal dalam Perang Dunia II. Dengan penghancuran kapal ini, angkatan laut menunjukkan komitmen untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan tantangan baru dalam peperangan modern.

Dalam konteks yang lebih luas, RIMPAC 2026 juga menggambarkan kesiapan angkatan laut untuk menghadapi ancaman yang muncul dari negara-negara dengan doktrin militer yang berbeda. Sementara angkatan laut Barat mengandalkan teknologi tinggi dan strategi yang presisi, negara-negara seperti Iran menunjukkan pendekatan yang lebih asimetris dengan mengandalkan taktik yang lebih murah dan bersedia menerima kerugian besar.

Dengan dua kapal yang telah tenggelam dalam latihan ini, yaitu USS Mobile Bay dan USS Peleliu, RIMPAC 2026 menegaskan kembali pentingnya latihan militer dalam membentuk kemampuan dan kerjasama antar negara. RIMPAC juga menjadi forum penting bagi negara-negara untuk menguji senjata baru dan taktik di lapangan, yang kedepannya akan berpengaruh pada skenario tempur nyata.

Latihan ini tidak hanya tentang penghancuran kapal, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih kuat di antara angkatan laut dari berbagai negara, serta menunjukkan kekuatan kolektif dalam menghadapi tantangan keamanan global.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.