Sorot Indonesia – Peristiwa tragis terjadi di Surabaya ketika sebuah kebakaran mengakibatkan tewasnya balita berusia 4 tahun, Kyaranissa Kamila Susetyo. Insiden kebakaran ini berlangsung di Jalan Petemon Timur, Kecamatan Sawahan, pada hari Senin, 22 Juni 2026, sekitar pukul 14.20 WIB. Dalam situasi yang sangat dramatis, sang kakak, Aldery Ahmad Susetyo, berhasil menyelamatkan diri dengan cara melompat dari jendela setelah berusaha membujuk adiknya untuk melompat bersamanya.

Kebakaran yang merenggut nyawa Kyaranissa ini mengundang duka mendalam bagi ibu mereka, Dhea Choirunissa, yang kemudian mengungkapkan kesedihannya melalui unggahan di media sosial. Pesan haru yang ditulisnya mendapatkan beragam dukungan dari netizen, menunjukkan betapa besarnya dampak emosional dari tragedi ini.

Baca juga:

Menurut keterangan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya, Laksita Rini, sebanyak 10 unit pemadam kebakaran diterjunkan untuk memadamkan api yang dengan cepat membesar. Namun, usia Kyara yang masih sangat muda tidak dapat diselamatkan. Aldery, kakak Kyaranissa, tercatat sebagai satu-satunya yang berhasil melarikan diri dari lokasi kebakaran yang mengerikan itu.

Dalam suasana yang penuh kepanikan, Aldery berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan adiknya. Namun, ketakutan melanda Kyaranissa, membuatnya tidak berani melompat meskipun kakaknya sudah berjanji akan menangkapnya. Keduanya terpisah dalam kepanikan saat api semakin membesar. Kejadian tragis ini menunjukkan betapa rentannya anak-anak dalam situasi berbahaya seperti kebakaran.

Di tempat lain, sebuah kebakaran juga terjadi di Kampung Cibodas, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi pada hari yang sama, yang juga menyebabkan kematian seorang ibu, Eni (34), yang berusaha menyelamatkan anaknya, Muhammad Arya, berusia 3,5 tahun. Eni mengalami luka bakar fatal setelah berusaha memadamkan api yang berasal dari ledakan kompor gas yang menyambar bensin di kios dekat rumah mereka. Arya berhasil diselamatkan oleh pamannya, Kemal, yang menerjang api untuk menolongnya. Namun, Eni tidak selamat dan meninggalkan anaknya yang kini harus menghadapi proses pemulihan yang panjang.

Yang menyedihkan, kedua tragedi ini menunjukkan bagaimana kebakaran dapat merenggut nyawa dan memisahkan keluarga dalam sekejap. Sementara Dhea Choirunissa berjuang untuk menerima kehilangan Kyara, keluarga Eni juga merasakan duka yang mendalam setelah kehilangan sosok ibu.

Insiden kebakaran yang tragis ini mengingatkan kita akan pentingnya keselamatan dan kewaspadaan di rumah, terutama saat menggunakan peralatan yang dapat memicu kebakaran. Baik di Surabaya maupun Sukabumi, keluarga-keluarga ini harus menghadapi kenyataan pahit yang ditinggalkan oleh peristiwa traumatis ini.

Dengan tragedi yang menimpa Kyaranissa dan Eni, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya tindakan pencegahan kebakaran agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.