Sorot IndonesiaCEO Honda Didesak Mundur Oleh Seniornya. Tekanan terhadap Toshihiro Mibe, CEO Honda Motor Co., semakin meningkat setelah sejumlah mantan petinggi perusahaan menyalahkannya atas berbagai masalah yang dihadapi oleh pabrikan otomotif Jepang ini. Mereka menganggap strategi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang diterapkan Mibe tidak tepat dan merugikan perusahaan.

Sejak akhir 2025, pertemuan rutin diadakan oleh mantan eksekutif Honda untuk membahas kondisi perusahaan. Dalam diskusi tersebut, mereka menilai Mibe bertanggung jawab atas keputusan strategis yang berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan, termasuk kurangnya perhatian terhadap pasar China dan investasi yang besar di sektor kendaraan listrik yang tidak sesuai harapan.

Baca juga:

Ketidakpuasan terhadap Mibe semakin mencuat setelah pembatalan tiga model kendaraan listrik yang direncanakan untuk diluncurkan di Amerika Utara. Keputusan ini menyebabkan Honda harus mencatatkan kerugian sekitar US$15,7 miliar, atau lebih dari Rp250 triliun, akibat investasi berlebihan pada proyek yang tidak berjalan sesuai rencana.

Dalam pertemuan, beberapa peserta menyampaikan kritik bahwa Mibe lebih fokus pada aktivitas promosi dan sponsor turnamen golf daripada mengurus operasional bisnis perusahaan. Puncak dari ketegangan ini terjadi pada April 2026, ketika mantan CEO Honda, Nobuhiko Kawamoto, yang kini berusia 90 tahun, mendatangi kantor pusat Honda dan meminta Mibe untuk segera mengundurkan diri. Akan tetapi, permintaan tersebut ditolak oleh Mibe.

Mibe telah menjabat sebagai CEO Honda sejak 2021 dan sebagai bentuk tanggung jawab atas penurunan kinerja perusahaan, ia rela menerima pemotongan gaji sebesar 30 persen selama tiga bulan setelah Honda mencatatkan kerugian tahunan pertamanya dalam 70 tahun terakhir.

Baca juga:

Para mantan eksekutif juga mengkritik gaya kepemimpinan Mibe yang dianggap menjauh dari prinsip ‘genba‘, yang adalah bagian penting dari budaya kerja Honda. Dalam konteks perusahaan Jepang, genba merujuk pada lokasi nyata tempat pekerjaan utama dilakukan, seperti pabrik dan pusat produksi.

Mereka mengungkapkan, “CEO tidak melihat kondisi di lapangan atau mendengarkan pelanggan, serta tidak turun langsung ke genba.” Kritikan ini juga menyebutkan bahwa manajemen senior, termasuk CEO, tidak mengunjungi lokasi penting seperti Tiongkok.

Walaupun mendapatkan tekanan dari mantan petinggi perusahaan, posisi Mibe tetap terjaga berkat dukungan dari komite nominasi dewan direksi. Komite ini dibentuk dengan melibatkan lebih banyak direktur independen sebagai upaya reformasi tata kelola perusahaan di Jepang, yang bertujuan untuk mengurangi pengaruh mantan eksekutif dalam pengambilan keputusan.

Baca juga:

Di tengah berbagai kritik ini, Honda mulai mengubah arah strateginya. Setelah membatalkan beberapa proyek kendaraan listrik, perusahaan kini tengah mengembangkan platform kendaraan generasi baru yang mendukung tidak hanya mobil listrik murni, tetapi juga model hybrid. Honda memperkirakan pasar kendaraan listrik di Amerika Serikat akan mengalami perubahan signifikan setelah masa jabatan kedua Presiden Donald Trump berakhir pada Januari 2029. Hasil pemilu sela yang akan berlangsung pada November mendatang juga dinilai dapat memengaruhi perkembangan pasar kendaraan listrik di negara tersebut.

Sebagai bagian dari strategi baru, Honda berencana meluncurkan 15 model hybrid baru hingga tahun 2029, dengan dua di antaranya telah diperkenalkan dalam bentuk purwarupa, yaitu Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype. Langkah ini menunjukkan bahwa Honda kini berusaha menyeimbangkan pengembangan kendaraan listrik dengan teknologi hybrid untuk merespons dinamika pasar global yang terus berubah.