Sorot Indonesia – Setelah AS-Iran, giliran Israel dan Hizbullah setuju hentikan perang [titlebase]. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, baru-baru ini menyatakan penolakannya terhadap kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Lebanon dan Israel. Dalam pernyataannya, Qassem menegaskan bahwa perjanjian tersebut merupakan bentuk penyerahan diri kepada Israel dan menyebutnya ‘batal demi hukum’. Ia mengkritik ketentuan yang mengaitkan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan dengan pelucutan senjata Hizbullah, yang dinilainya melanggar kedaulatan negara.
Dalam kesepakatan yang ditandatangani pada 26 Juni 2026, diatur mengenai penarikan bertahap pasukan Israel dari beberapa wilayah Lebanon selatan bersamaan dengan pengerahan tentara Lebanon. Namun, Israel tetap diperbolehkan untuk mempertahankan kehadiran sementara di zona keamanan yang diperluas. Penolakan Hizbullah terhadap kesepakatan ini muncul sehari setelah penandatanganan, di mana Qassem menyatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan medan perang dalam keadaan apapun.
Konflik ini semakin rumit setelah kesepakatan antara AS dan Iran diperoleh, yang dianggap menguntungkan bagi Hizbullah. Qassem mengklaim bahwa perjanjian tersebut adalah ‘sebuah kemenangan besar’ dan ‘titik balik penting bagi Lebanon’. Analis Timur Tengah seperti James M. Dorsey berpendapat bahwa nota kesepahaman ini memberikan hampir semua yang diinginkan Iran, yang pada gilirannya memperkuat posisi Hizbullah.
Di tengah kekacauan ini, survei terbaru menunjukkan bahwa 92,1 persen warga Israel percaya bahwa Iran telah memenangkan perang. Penurunan dukungan publik terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi 29,4 persen, menunjukkan ketidakpuasan terhadap penanganan konflik ini. Meskipun banyak yang merasa pesimis, hampir separuh warga Israel masih mendukung rencana operasi militer besar di Lebanon untuk menghadapi Hizbullah.
AS, melalui Komando Pusat militer CENTCOM, telah membentuk mekanisme pemantauan untuk mengawasi perkembangan konflik Israel-Hizbullah secara real-time. Upaya ini dilakukan setelah pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dan pemimpin Lebanon serta Israel. Pejabat AS menyatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk mengakhiri siklus kekerasan dan memfasilitasi negosiasi antara kedua negara berdaulat.
Dengan latar belakang ini, ketegangan antara Israel dan Hizbullah masih jauh dari kata selesai, meskipun ada upaya untuk menciptakan kesepakatan yang lebih komprehensif. Setelah AS-Iran, giliran Israel dan Hizbullah setuju hentikan perang [titlebase] menjadi salah satu langkah dalam mengupayakan perdamaian, namun tantangan besar masih membayangi proses ini.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
