Sorot Indonesia – Friedrich Merz, Kanselir Jerman yang juga Ketua CDU, kini menghadapi tekanan politik yang luar biasa. Popularitasnya merosot tajam, dan partainya terbelah antara sayap sosial dan konservatif. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah peristiwa menempatkan Merz di pusat badai politik, mulai dari penolakan SPD terhadap reformasi perawatan lansia hingga kontroversi plakat Holocaust di kota Heidenau. Semua ini terjadi saat CDU mengalami kekalahan telak dalam pemilihan regional di tiga negara bagian.

Sayap sosial CDU, yang diwakili oleh Christlich-Demokratische Arbeitnehmerschaft (CDA), secara terbuka menyerukan perubahan arah. Dennis Radtke, ketua CDA, menyatakan bahwa CDU tidak lagi menjadi partai rakyat seperti dulu. “Kami hanya sebagian masih menjadi partai rakyat,” ujarnya. CDA menuntut agar CDU lebih memperhatikan kelas pekerja dan kelas menengah, serta melibatkan lebih banyak kandidat dari sektor industri, kerajinan, perawatan, pendidikan, dan usaha kecil. Radtke juga mengkritik gaya komunikasi Merz yang dianggap tidak sensitif, terutama pernyataannya tentang kurangnya etos kerja. “Tentu saja Merz juga harus berubah,” tegasnya.

Baca juga:

Kritik tidak hanya datang dari dalam partai. Di Heidenau, sebuah kota di Jerman timur, dewan kota memutuskan untuk menghentikan pemasangan Stolpersteine, plakat kuningan yang mengenang korban Holocaust. Keputusan ini didukung oleh partai sayap kanan AfD dan beberapa politisi CDU yang bersekutu dengan Merz. Duta Besar Israel untuk Jerman, Ron Prosor, menyatakan rasa malunya, karena beberapa plakat di Berlin mengenang kerabatnya sendiri. Keputusan ini menuai kecaman luas, termasuk dari komisioner pendidikan politik Schleswig-Holstein, Christian Meyer-Heidemann, yang menyebutnya sebagai serangan terhadap budaya peringatan.

Di sisi lain, reformasi perawatan lansia yang dijanjikan Merz juga terancam gagal. SPD menolak rencana Menteri Kesehatan Carsten Linnemann karena dianggap melakukan pemotongan manfaat. Sekretaris Jenderal SPD, Tim Klüssendorf, menegaskan partainya tidak akan membiarkan pemotongan tersebut. SPD menuntut batas biaya sendiri dan kompensasi dari asuransi swasta. Sementara itu, defisit asuransi perawatan mencapai miliaran euro. Linnemann menyalahkan Menteri Keuangan Lars Klingbeil yang belum mengembalikan pinjaman 5 miliar euro dari dana perawatan selama pandemi. Pemerintah tampak semakin tidak mampu bertindak, dan janji reformasi Merz pun dipertaruhkan.

Kegagalan ini tercermin dalam hasil pemilihan regional di Jerman. CDU mengalami penurunan drastis: di Mecklenburg-Vorpommern, partai gagal melewati ambang batas 5 persen untuk pertama kalinya dalam sejarah pascaperang. Di Berlin, CDU kehilangan hampir 9,5 poin persentase, dan di Sachsen-Anhalt, partai kehilangan hampir 20 poin. AfD semakin kuat dan berpeluang membentuk pemerintahan di Sachsen-Anhalt. Pengamat politik menilai bahwa Merz bertahan bukan karena dukungan kuat, melainkan karena tidak ada alternatif yang lebih baik di dalam CDU. “Merz bertahan terutama karena tidak ada opsi yang lebih baik,” tulis Jakub Majmurek dalam analisisnya untuk Wirtualna Polska.

Survei terbaru menunjukkan hanya 13 persen warga Jerman yang puas dengan kinerja Merz, sementara 83 persen tidak puas. Ini adalah angka terendah bagi seorang kanselir pada tahap awal jabatannya. Dibandingkan dengan pendahulunya seperti Konrad Adenauer, Helmut Schmidt, atau Angela Merkel, Merz jauh tertinggal. Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa kanselir sering dinilai lebih positif setelah masa jabatannya berakhir. Namun, dengan tekanan yang terus meningkat, Merz harus segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan kepemimpinannya dan masa depan CDU.

Dalam situasi yang serba sulit ini, Merz dihadapkan pada pilihan sulit: mengubah gaya kepemimpinan dan kebijakan, atau menghadapi kemungkinan kehilangan dukungan lebih lanjut. Partai CDU yang pernah menjadi kekuatan dominan di Jerman kini terancam terpecah. Apakah Merz mampu bangkit, atau akankah ia tercatat sebagai kanselir paling tidak populer dalam sejarah Jerman? Waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan dari dalam dan luar partai semakin menggunung. Satu hal yang pasti, kepemimpinan Merz sedang diuji seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.