Sorot Indonesia – PM Inggris Keir Starmer disebut akan segera mengundurkan diri [titlebase] setelah menghadapi tekanan politik yang intens dan kritik terhadap kebijakan ekonominya. Pada 23 Juni 2026, Starmer mengumumkan pengunduran dirinya setelah kurang dari dua tahun menjabat, menjadikannya sebagai salah satu perdana menteri dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah politik Inggris modern.
Masa kepemimpinan Starmer ditandai dengan berbagai tantangan, terutama dalam bidang ekonomi. Ketika ia menjabat, kondisi fiskal Inggris cukup berat, dengan utang publik mendekati 100 persen dari produk domestik bruto (PDB). Selain itu, Layanan Kesehatan Nasional (NHS) menghadapi daftar tunggu yang mengkhawatirkan, mencapai 7,8 juta pasien. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Starmer, termasuk pemotongan bantuan biaya bahan bakar bagi pensiunan dan kenaikan pajak untuk dunia usaha, menimbulkan kritik tajam dari berbagai kalangan, termasuk anggota parlemen Partai Buruh sendiri.
Dari jajak pendapat yang dilakukan oleh YouGov, terungkap bahwa lebih dari 60 persen warga Inggris setuju dengan keputusan Starmer untuk mundur. Hanya 19 persen yang merasa keputusan tersebut salah. Ini menunjukkan bahwa banyak warga mulai kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Starmer, yang sebelumnya membawa Partai Buruh meraih kemenangan besar dalam pemilu 2024.
Dalam pidato emosional yang disampaikan di Downing Street, Starmer mengakui bahwa ia mungkin bukan sosok yang tepat untuk memimpin partai menghadapi pemilu mendatang. Pengunduran dirinya juga muncul sebagai respons terhadap meningkatnya popularitas Nigel Farage dan partainya, Reform UK, yang berhasil menarik perhatian pemilih dari basis utama Partai Buruh.
Andy Burnham, Wali Kota Greater Manchester, kini menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Starmer. Burnham telah mendapatkan dukungan luas dari anggota parlemen Partai Buruh dan diperkirakan akan mencalonkan diri dalam pemilihan pemimpin partai yang akan dimulai pada 9 Juli 2026. Jika terpilih, Burnham akan menjadi perdana menteri ketujuh dalam sepuluh tahun terakhir, sebuah tanda bahwa politik Inggris masih dalam keadaan tidak stabil pasca-Brexit.
Burnham dikenal sebagai tokoh sayap kiri moderat dan memiliki pengalaman politik yang panjang, termasuk menjabat sebagai menteri dalam beberapa posisi penting di kabinet. Ia juga pernah mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh sebelumnya, dan kini kembali muncul sebagai sosok yang diharapkan dapat membawa perubahan.
Dengan situasi yang semakin dinamis, pengunduran diri PM Inggris Keir Starmer disebut akan segera mengundurkan diri [titlebase] menandai dimulainya era baru dalam politik Inggris. Sementara itu, tantangan ekonomi dan masalah dalam sektor publik tetap menjadi fokus utama bagi siapa pun yang akan mengambil alih tampuk kepemimpinan. Dalam waktu dekat, Partai Buruh akan menghadapi tantangan untuk mempertahankan dukungan publik dan merumuskan kebijakan yang lebih efektif untuk memperbaiki kondisi negara.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
