Sorot IndonesiaGunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Pada Kamis, 25 Juni 2026, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami lima kali erupsi dalam rentang waktu enam jam. Erupsi pertama terjadi pada pukul 05:44 WIB dengan kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak, dan yang terakhir terjadi pada pukul 06:51 WIB dengan ketinggian kolom abu sekitar 600 meter.

Baca juga:

Petugas Pos Pantau Gunung Semeru melaporkan bahwa kolom abu yang teramati berwarna putih hingga kelabu dengan arah angin yang bertiup lemah ke selatan dan barat daya. Meskipun aktivitas erupsi ini masih tergolong kecil dan belum menimbulkan dampak signifikan bagi masyarakat, status gunung semeru tetap berada pada Level III atau Siaga. Hal ini mengharuskan warga untuk menjauhi daerah sekitar Besuk Kobokan dan puncak gunung.

Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, Hendra Septyantoro, seorang petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS), tetap melanjutkan tugasnya di kawasan yang berisiko tinggi. Pada hari yang sama, Hendra menyeberangi aliran lahar dingin di Sungai Regoyo untuk mendata unit usaha di Dusun Sumberlangsep, Lumajang. Ia mengungkapkan bahwa medan yang berat dan cuaca yang tidak menentu menambah tantangan dalam pekerjaannya.

“Waspada itu pasti. Di sini jalurnya ekstrem dan tidak ada akses alternatif. Pilihannya cuma satu melintasi aliran lahar atau tugas tidak selesai,” kata Hendra. Dengan target mendatangi 10 hingga 12 koresponden per hari, ia sering kali harus berulang kali kembali ke rumah yang sama karena penghuninya tidak ada atau masih curiga. Misi ini mengharuskan Hendra dan rekan-rekannya untuk tetap bersikap ramah demi kelancaran pendataan.

Baca juga:

Menurut Mochammad Sonhaji, Kepala BPS Lumajang, Sensus Ekonomi 2026 bertujuan untuk melacak unit usaha yang “tak kasat mata”, termasuk perdagangan online dan jasa konstruksi rumahan. Data yang dikumpulkan akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan ekonomi dan penyaluran bantuan sosial pemerintah ke depan.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya yang mungkin timbul akibat aktivitas gunung semeru. Potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sejumlah aliran sungai berhulu di Semeru menjadi perhatian utama.

Dengan segala kesulitan dan tantangan yang ada, keberanian Hendra dan petugas lainnya patut diacungi jempol. Mereka tidak hanya berjuang untuk mendata ekonomi, tetapi juga berhadapan dengan ancaman alam yang terus mengintai di sekitar Gunung Semeru. Aktivitas vulkanik ini menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan dan persiapan dalam menghadapi bencana.

Baca juga:

Setiap erupsi Gunung Semeru menjadi pengingat bagi kita semua akan kekuatan alam yang tidak dapat diprediksi. Dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, diharapkan masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi di masa depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.