Sorot Indonesia – JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN – Rabu (24/6/2026) pagi, aula Kantor Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, dipenuhi wajah ceria anak-anak yatim piatu yang menerima santunan dari Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha. Acara ini merupakan salah satu wujud nyata dari Kepedulian Bupati Semarang pada Nasib Yatim-Piatu Tak Ingin Ada Anak Putus Sekolah, yang menjadi fokus utama pemerintah daerah.

Baca juga:

Dalam penyerahan simbolis bantuan kepada 244 anak yatim piatu di luar panti asuhan se-Kecamatan Tuntang, Bupati Ngesti menekankan bahwa anak-anak tersebut adalah penerus bangsa yang harus didukung dan dibina menjadi generasi yang berpendidikan. “Jangan sampai ada anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya,” tegasnya di hadapan para penerima.

Bupati Ngesti menjelaskan bahwa pendidikan bagi anak yatim piatu bukan hanya sekadar program sosial, melainkan juga investasi masa depan bagi Kabupaten Semarang. Bantuan sebesar Rp500 ribu untuk setiap anak diharapkan dapat membantu mereka mengejar cita-cita, seperti menjadi dokter, guru, atau pegawai negeri sipil (ASN) yang berkontribusi untuk daerah.

Tahun 2026 ini, Pemkab Semarang mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,5 miliar khusus untuk santunan anak yatim piatu yang diasuh keluarga, bukan di panti asuhan. Anggaran ini mencakup anak yang tinggal bersama nenek, paman, atau keluarga angkat di seluruh kecamatan.

“Harapannya, santunan ini dapat meringankan beban biaya pendidikan dan pengasuhan, seperti uang sekolah, buku, seragam, dan jajan anak. Sekecil apapun bantuan, jika tepat sasaran, akan sangat berarti,” tambah Bupati Ngesti.

Proses verifikasi penerima bantuan dilakukan secara ketat untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tepat sasaran. Kepala Bagian Kesra, Asep Mulyana, menjelaskan bahwa timnya bersama perangkat desa dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) turun langsung untuk memeriksa kondisi rumah, status yatim, dan riwayat bantuan sosial lainnya.

Baca juga:

Dari 5.000 usulan yang masuk, hasil verifikasi menemukan 4.142 anak yang benar-benar layak untuk menerima bantuan. Untuk Kecamatan Tuntang, kuota bantuan mencapai 244 anak, masing-masing menerima Rp500 ribu, yang diserahkan langsung agar dapat segera digunakan untuk kebutuhan sekolah.

Acara penyerahan bantuan di Kecamatan Tuntang ini akan dilanjutkan ke kecamatan lain dengan pola yang sama, yaitu verifikasi ketat dan serah terima yang transparan, didampingi oleh Forkopimcam.

Bupati Ngesti juga memberikan pesan motivasi kepada anak-anak: “Belajar yang rajin ya. Jangan malu karena status yatim. Negara hadir lewat Pemkab Semarang. Tunjukkan nanti kalian bisa jadi orang hebat,” ujarnya dengan penuh haru.

Sementara itu, di luar aula, beberapa anak tampak memeluk erat amplop santunan. Salah satu anak bahkan langsung mengungkapkan keinginannya untuk membeli buku tulis. Ada juga yang berbisik kepada neneknya bahwa uang tersebut akan digunakan untuk membayar SPP bulan depan.

Nilai bantuan sebesar Rp500 ribu mungkin tidak mengubah hidup anak-anak secara seketika, tetapi Kepedulian Bupati Semarang pada Nasib Yatim-Piatu Tak Ingin Ada Anak Putus Sekolah ini mengirimkan pesan bahwa di Kabupaten Semarang, anak yatim piatu tidak berjuang sendirian.

Baca juga:

Selain itu, Bupati Semarang juga menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan agama anak-anak dengan membuka acara Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) Ke-VIII tingkat Kabupaten Semarang di halaman SMPN 2 Tuntang pada Minggu (21/6/2026). Ia mengingatkan orang tua untuk terus memperhatikan pendidikan karakter anak, karena peran orang tua sangat penting dalam membina perilaku anak agar menjadi insan yang taat norma agama.

Dalam pembukaan FASI, Bupati Ngesti memberikan perhatian khusus kepada para guru pengajar di lembaga pendidikan Al Qur’an, yang dianggap berperan penting dalam mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak sejak dini. Insentif bagi para guru madrasah diniyah juga diberikan untuk meningkatkan mutu pengajaran ilmu agama secara non formal.

Dengan sejumlah program dan bantuan yang diberikan, Bupati Ngesti berharap dapat menggerakkan semangat masyarakat untuk lebih peduli terhadap nasib anak-anak yatim piatu. Di tahun 2026, Pemkab Semarang menargetkan lebih banyak anak yatim piatu di luar panti asuhan untuk mendapatkan santunan dan dukungan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tengah masyarakat.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.