Sorot Indonesia – Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tengah menghadapi ujian berat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah, terutama di sekitar Sampit. Meski hujan mulai mengguyur dua hari terakhir, asap pekat masih menyelimuti udara dan memaksa pemerintah terus mengoptimalkan penanganan. Di tengah situasi darurat ini, sebuah peristiwa mengharukan terjadi: seekor anak bekantan ditemukan terpisah dari induknya saat petugas memadamkan api di kawasan Jembatan Sungai Sampit.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengungkapkan bahwa laporan penemuan anak bekantan itu diterima pada Kamis malam, 1 Oktober 2026, sekitar pukul 23.00 WIB dari Damang Bagendang dan Sekretaris Kecamatan Mentaya Hilir Utara. “Saat pemadaman kebakaran lahan di sekitaran Jembatan Sungai Sampit, ditemukan satu ekor anak bekantan,” ujarnya, Jumat (2/10/2026). Diduga, satwa dilindungi tersebut terpisah dari kelompoknya ketika api melalap habitat mereka di tepian sungai.
Muriansyah menyatakan belum langsung mengevakuasi anak bekantan itu. Ia berencana mengecek lokasi pada Jumat sore untuk memastikan apakah induk atau rombongan bekantan masih berada di sekitar. Jika ya, anak tersebut akan diletakkan di tanah agar diambil kembali oleh induknya. Namun, jika tidak ada tanda-tanda kehadiran kelompoknya, BKSDA akan membawa anak bekantan ke Sampit untuk penanganan lebih lanjut. Kawasan tepian Sungai Sampit memang dikenal sebagai salah satu habitat bekantan, dan rombongan satwa berhidung panjang itu cukup sering terlihat di sana.
Sementara itu, upaya penanggulangan karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur masih menjadi prioritas utama. Bupati Halikinnor menegaskan bahwa pemerintah daerah terus memaksimalkan penanganan meski hujan deras mulai turun di beberapa wilayah. “Kita tetap maksimalkan penanganan karhutla hingga benar-benar teratasi. Kita bersyukur mulai hujan, tapi karena belum merata makanya karhutla masih terjadi,” kata Halikinnor di Sampit, Minggu (27/9/2026). Hujan yang terjadi diduga masih berasal dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan belum cukup untuk memadamkan api, terutama di lahan gambut.
Kepala BMKG Kotim melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa kabut asap sulit terurai akibat dinamika atmosfer yang dipengaruhi Siklus Walker. “Ketika terjadi updraft atau udara naik, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi akan naik ke atas sehingga terbentuk awan. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi daya dorong atmosfer ke bawah. Akibatnya, asap seperti terkurung di permukaan,” jelasnya. Rendahnya labilitas atmosfer dan kecepatan angin membuat asap bertahan lebih lama di dekat permukaan, memperburuk kualitas udara hingga status berbahaya.
Di tengah krisis lingkungan ini, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur juga tengah menyiapkan pembangunan ulang jembatan kayu tua di Jalan Walter Condrat, Kecamatan Baamang. Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim, Mentana Dhinar Tistama, menyebut proyek senilai Rp1,6 miliar itu sudah masuk proses pengadaan barang dan jasa. “Ini baru proses pengadaan, proses PBJ. Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah ada aksi,” ujarnya, Jumat (2/10/2026). Jembatan lama akan dibongkar total dan diganti dengan box culvert tiga lubang yang lebih permanen. Mentana memastikan pekerjaan akan rampung pada akhir 2026.
Selain infrastruktur, sektor pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur juga mendapat perhatian. Wilmar Group melalui Yayasan Bina Bangsa mengelola 20 sekolah di Kalimantan Tengah, delapan di antaranya TK, enam SD, tiga SMP, dan tiga SMA, dengan total 6.004 siswa dan 289 tenaga pendidik. Salah satunya adalah Sekolah Bina Bangsa 02 di Desa Kenyala, Kotawaringin Timur. “Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sehingga harus disiapkan sebaik mungkin. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara,” ujar Siti Wahyuni, Koordinator Yayasan Bina Bangsa. Akses pendidikan diberikan gratis, kecuali seragam, dan tidak eksklusif bagi anak karyawan; sekitar 380 siswa berasal dari desa sekitar.
Kesimpulan: Kabupaten Kotawaringin Timur menghadapi tantangan multidimensi, mulai dari karhutla yang memicu kabut asap dan mengancam satwa endemik seperti bekantan, hingga kebutuhan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas pendidikan. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci untuk mengatasi berbagai persoalan ini demi masa depan yang lebih baik.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
