Sorot Indonesia – Dalam sebuah pernyataan yang mengundang kontroversi, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyebut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai “kapolri terbaik sepanjang masa”. Pernyataan ini langsung mendapat respons keras dari mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno yang merasa tidak terima. Oegroseno menilai pujian tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap jasa para mantan Kapolri yang telah berkontribusi besar bagi institusi kepolisian dan negara.
Oegroseno mengemukakan bahwa pernyataan Habiburokhman, yang disampaikan dalam rapat paripurna DPR pada 9 Juni 2026, tidak hanya merendahkan para pendahulu Listyo Sigit, melainkan juga mengabaikan kontribusi 24 mantan Kapolri yang telah menjalankan tugas berat untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia.
“Kapolri ini dari masa ke masa, mulai dari Pak Komisaris Jenderal Polisi Raden Said Sukanto hingga sekarang, memiliki sejarah dan prestasi yang tidak bisa diabaikan. Dengan menyebut satu orang sebagai terbaik, itu sama saja merendahkan yang lainnya,” tegas Oegroseno dalam sebuah diskusi publik.
Oegroseno juga mempertanyakan dasar penilaian yang digunakan Habiburokhman untuk memberikan predikat tersebut. Ia merasa bahwa penilaian tersebut tidak objektif dan hanya berdasarkan pandangan pribadi, bukan prestasi yang terukur. “Apa ukuran objektif yang digunakan untuk menyebut seseorang sebagai kapolri terbaik sepanjang masa?” tanya Oegroseno retoris.
Dalam kesempatan tersebut, Oegroseno berencana untuk berkonsultasi dengan Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR terkait pernyataan Habiburokhman. Ia ingin memastikan bahwa pernyataan tersebut tidak dibiarkan begitu saja dan berharap ada tindakan yang diambil untuk menghormati semua mantan Kapolri.
Di sisi lain, Habiburokhman, dalam pernyataannya, menyebut bahwa keberadaan Listyo Sigit sebagai Kapolri yang hadir dalam rapat tersebut merupakan hal yang langka dan patut diapresiasi. “Salah satu Kapolri terbaik sepanjang masa ini jarang hadir di sini, dan kami sangat menghargai kehadirannya,” ujarnya.
Polemik ini pun menimbulkan diskusi yang lebih luas di kalangan masyarakat mengenai kinerja dan kontribusi para pemimpin kepolisian di Indonesia. Banyak yang berpendapat bahwa setiap Kapolri memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda, sehingga sulit untuk membandingkan satu dengan yang lain secara langsung.
Oegroseno tak terima Habiburokhman sebut Listyo Sigit Kapolri terbaik sepanjang masa [titlebase] mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam dari seorang purnawirawan yang sangat menghormati sejarah dan kontribusi rekan-rekannya di institusi kepolisian. Dalam pandangan Oegroseno, setiap mantan Kapolri memiliki jasa yang patut dihargai dan diakui, bukan hanya satu orang yang dipuji tanpa mempertimbangkan konteks lebih luas.
Seiring dengan berkembangnya diskusi ini, tampak jelas bahwa penghargaan dan pengakuan terhadap jasa para pemimpin masa lalu tetap penting. Perdebatan ini tidak hanya tentang siapa yang terbaik, tetapi juga tentang menghargai perjalanan panjang institusi kepolisian di Indonesia.
