Sorot Indonesia – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat, seiring dengan ancaman terbaru dari Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan kemungkinan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran. AS dan Israel disebut akan bombardir infrastruktur energi di Iran, Trump pertimbangkan serangan baru [titlebase] jika Teheran menolak untuk melanjutkan negosiasi. Ancaman ini muncul setelah sejumlah pejabat tinggi Iran mengeluarkan peringatan bahwa mereka akan membalas serangan tersebut dengan menargetkan fasilitas energi di negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh seorang pejabat anonim dari negara Teluk yang mengungkapkan bahwa Iran tidak segan-segan untuk menyerang infrastruktur energi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UAE), Qatar, Bahrain, dan Kuwait jika AS melancarkan serangan ke pembangkit listrik di wilayahnya. Hal ini menandakan bahwa potensi konflik militer di kawasan ini semakin serius, dengan kedua belah pihak saling mengancam.

Baca juga:

Dalam wawancara dengan media, Trump menyebut bahwa serangan yang direncanakan terhadap Iran bisa menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II, dan dia mengklaim bahwa serangan tersebut akan menghancurkan kemampuan militer Iran untuk membalas. “Tadinya, ini akan menjadi serangan besar-besaran. Ini akan menjadi serangan yang, sejauh ini, merupakan serangan terbesar sejak Perang Dunia II,” ungkap Trump di atas Pesawat Air Force One.

Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur publik Iran jika Teheran terus menunjukkan sikap menantang. Namun, ia juga mengklaim membatalkan serangan lanjutan setelah mendapat permintaan dari Iran dan negara-negara Teluk untuk mengutamakan jalur diplomasi. “Saya telah setuju, demi kepentingan dunia di masa depan, untuk membatalkan serangan tersebut dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan,” tambahnya.

Di tengah ketegangan ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, telah berkomunikasi dengan pejabat tinggi negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar, untuk menyampaikan ultimatum bahwa setiap serangan baru terhadap Iran akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi yang berkaitan dengan kepentingan AS. Pesan ini menunjukkan bahwa Iran masih mengutamakan diplomasi, meskipun mereka siap untuk merespons secara militer jika diserang.

Dalam beberapa minggu terakhir, serangan AS terhadap posisi-posisi Iran telah meningkat, dengan tujuan untuk mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz yang dianggap krusial bagi perdagangan global. Iran pun memperingatkan bahwa jika serangan lanjutan dilakukan, mereka akan memadamkan listrik di negara-negara Teluk satu per satu.

Situasi ini menjadi semakin rumit dengan berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang terlibat. Sementara AS dan Israel disebut akan bombardir infrastruktur energi di Iran, Trump pertimbangkan serangan baru [titlebase], Iran tampaknya tetap bersikap defensif, mengedepankan diplomasi namun tetap mengancam balasan. Ketegangan ini menunjukkan bahwa risiko konflik bersenjata di kawasan Teluk semakin mendekat, dan bagaimana kedua belah pihak akan merespons bisa mempengaruhi stabilitas tidak hanya di kawasan, tetapi juga di seluruh dunia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.