Sorot IndonesiaChad menjadi negara kelima yang memulai proses pengunduran diri secara formal dari International Criminal Court (ICC) dalam beberapa bulan terakhir, menyusul Venezuela, Burkina Faso, Mali, dan Niger di tengah tekanan dari Amerika Serikat. Pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara pemerintah Chad pada hari Senin (27/7/2026) mengatakan bahwa Chad sudah memberitahukan Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang "keputusan berdaulatnya untuk menarik diri dari Statuta Roma dan International Criminal Court (ICC)". Keputusan itu diambil menyusul pengkajian secara mendalam tentang fungsi dari ICC sejak pembentukannya pada 2002, serta disebabkan catatan efektivitasnya masih terbatas dan belum bisa dinilai baik.

Chad juga menyoroti aktivitas yudisial ICC yang tampak fokus secara umum pada negara-negara di belahan selatan (Global South) dan khususnya Benua Afrika, yang kemudian menjadi korban dan instrumentalisasi politik ICC. Dari 13 investigasi yang dibuka ICC sejak mulai beroperasi, 9 menyangkut negara Afrika, hanya empat dari benua atau kawasan lain di dunia "tetapi tanpa kemajuan nyata", kata pemerintah Chad. "Mahkamah itu hanya memiliki tujuh orang tahanan, enam di antaranya diadili dalam kasus-kasus yang terjadi di Afrika," imbuhnya seperti dilansir RFI.

Baca juga:

Keputusan itu diambil di tengah klaim berbagai organisasi dan masyarakat internasional bahwa Chad terlibat dalam konflik di negara tetangga Sudan. Chad mengumumkan penarikan diri pada hari Senin setelah Venezuela pada hari Jumat (24/7) mengumumkan bahwa mereka telah memulai prosedur formal untuk keluar dari ICC. Menurut pernyataan di situs web Kementerian Luar Negeri Chad pekan lalu, keputusan untuk keluar dari ICC diambil menyusul permintaan dari Amerika Serikat. Disebutkan bahwa Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Afrika telah meminta pemerintah Chad untuk mempertimbangkan kembali keanggotaannya di ICC selama percakapan telepon hari Kamis pekan sebelumnya.

Di sisi lain, seorang pemukim ilegal dari Israel, Yehuda Shimon, menyatakan bahwa satu nyawa Yahudi setara dengan sepuluh juta nyawa Palestina. Ini adalah ideologi genosida yang menyebabkan kekerasan pemukim di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Pernyataan ini diungkapkan dalam wawancara dengan BBC, yang menyerukan pemusnahan seluruh desa Palestina sebagai balasan. Namun, dia bukanlah pemukim biasa. Yehuda Shimon merupakan salah satu pemimpin pemukiman ilegal Havat Gilad. Ia juga berprofesi sebagai pengacara, pekerjaan yang sebenarnya berprinsip pada penegakan keadilan.

Keputusan Chad untuk keluar dari ICC dan ideologi genosida yang diungkapkan oleh Yehuda Shimon menunjukkan adanya tekanan dan perlawanan terhadap kebijakan internasional dan hak asasi manusia. Chad bakal keluar dari ICC, kenapa? Jawabannya terletak pada tekanan dari Amerika Serikat dan kekurangan efektivitas ICC dalam mengatasi konflik di Afrika. Sementara itu, ideologi genosida yang diungkapkan oleh Yehuda Shimon menunjukkan adanya perlawanan terhadap hak asasi manusia dan keadilan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.