Sorot Indonesia – MSCI mempertahankan status Indonesia dalam kelompok Emerging Market, yang merupakan sentimen positif bagi pasar modal domestik. Langkah tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi arus keluar dana asing hingga sekitar Rp80 triliun apabila Indonesia diturunkan ke kategori Frontier Market. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, mengatakan keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market berhasil menghindarkan pasar saham domestik dari tekanan yang lebih besar.

Meskipun demikian, Indonesia masih akan berada dalam masa pemantauan (watchlist) hingga November 2026. “Dengan tetap dipertahankannya status Emerging Market, risiko keluarnya dana dalam jumlah besar tersebut berhasil dihindari. Meski demikian, upaya untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar saham Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah,” ujar Wilbert dalam keterangan resmi.

Baca juga:

Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets terus menurun. Pada Juni 2026, porsi Indonesia tercatat sekitar 0,4%, turun dari 1,2% pada akhir 2025. Menurut Wilbert, penyusutan bobot tersebut dipengaruhi oleh menurunnya kepemilikan investor asing serta derasnya arus dana keluar dari pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Arus keluar dana asing sejauh ini masih didominasi investor yang mengikuti komposisi indeks (index-linked funds). Sementara itu, investor jangka panjang dinilai masih mempertahankan investasinya, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Peluang kembalinya aliran modal asing masih terbuka. Hal itu didukung valuasi saham Indonesia yang dinilai relatif murah dibandingkan rata-rata dalam satu dekade terakhir, serta peluang MSCI kembali membuka inklusi indeks pada masa mendatang.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.