Sorot Indonesia – Jakarta – PT Pertamina (Persero) terus berkomitmen dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang cukup di seluruh Indonesia. Melalui berbagai program sosial dan langkah strategis, Pertamina berusaha meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengatasi masalah antrean panjang di SPBU, terutama di Sumatera Selatan.
Pertamina Patra Niaga, anak perusahaan Pertamina, baru-baru ini meluncurkan beberapa program sosial, termasuk Seragam Sekolah untuk Semua (Sesama), Pasar Murah Sembako (Pusako), dan Ultra Mikro Pertamina Aksi (UMiMAX). Program UMiMAX dirancang untuk memberikan bantuan sarana usaha produktif dan pelatihan bagi masyarakat prasejahtera, sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan dan memperkuat ketahanan pangan di Indonesia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa program-program ini merupakan kontribusi nyata dari Pertamina untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Energi yang kami salurkan setiap hari pada akhirnya bermuara pada kehidupan masyarakat. Karena itu, kami ingin kepedulian Pertamina juga hadir dalam bentuk yang dekat dengan kebutuhan mereka,” jelas Roberth.
Salah satu penerima manfaat program UMiMAX, Suwandi, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterimanya. “Bantuan gerobak usaha dari Pertamina ini sangat berarti bagi saya dan anak. Sekarang saya dapat mengembangkan usaha jualan kopi dan minuman,” ujarnya.
Di sisi lain, Pertamina juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan pasokan BBM, khususnya terkait antrean panjang yang terjadi di beberapa SPBU di Palembang, Sumatera Selatan. Meskipun pasokan BBM solar bersubsidi dinyatakan aman, antrean panjang di beberapa SPBU menunjukkan adanya masalah yang perlu ditangani. Pertamina berkolaborasi dengan aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan dan memastikan penyaluran BBM berjalan sesuai ketentuan.
Menurut Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto, pihaknya menerapkan penggunaan scan barcode untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran sesuai jenis kendaraan dan plat nomor. “Kami akan melakukan pengecekan di lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta pihak kepolisian untuk mengatasi masalah antrean ini,” paparnya.
Selain itu, Pertamina juga siap menjalankan program mandatori biodiesel B50 yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa implementasi program ini diproyeksikan dapat mengurangi impor solar sebanyak 18 juta kiloliter pada tahun 2026. Pertamina berkomitmen untuk memastikan kualitas dan distribusi biodiesel B50 agar berjalan lancar.
Selain kendala dalam penyaluran BBM, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga BBM untuk memastikan aksesibilitas bagi masyarakat. Pada awal Juli 2026, beberapa produk BBM nonsubsidi mengalami penurunan harga, seperti Pertamax Turbo dan Dexlite. Penurunan harga ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Kegiatan dan inisiatif yang dilakukan oleh Pertamina menunjukkan komitmen perusahaan untuk tidak hanya menjadi penyedia energi, tetapi juga berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat dan menjaga ketahanan energi nasional. Dengan berbagai program yang dicanangkan, Pertamina berupaya untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
