Sorot Indonesia – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Badan Gizi Nasional (BGN) mengalami penghentian sementara selama libur sekolah semester kedua, mulai 22 Juni hingga 13 Juli 2026. Keputusan ini diambil berdasarkan Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2026 sebagai upaya efisiensi anggaran. Diketahui, penghentian ini diperkirakan dapat menghemat hingga Rp3,4 triliun.

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul informasi di media sosial yang mengklaim bahwa program MBG tetap beroperasi selama periode libur sekolah. Informasi tersebut terbukti hoaks, hasil dari pemotongan video wawancara Ketua BGN, Nanik S Deyang, yang diunggah di media sosial. Dalam video asli, Nanik menjelaskan bahwa program MBG bersifat fleksibel dan tidak akan beroperasi selama periode libur ini.

Baca juga:

Selama masa penghentian, semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak akan melakukan distribusi makanan. Hal ini juga berdampak langsung pada ribuan relawan yang terlibat dalam program ini, yang terpaksa dirumahkan dan tidak mendapatkan upah selama periode tersebut. Koordinator Wilayah BGN Trenggalek, Neo Ordikla, menyatakan bahwa SPPG tidak melaksanakan pendistribusian makanan hingga 13 Juli.

Meski dapur MBG Rampal Celaket di Malang menghentikan produksi makanan, pengelola memanfaatkan waktu ini untuk melakukan perawatan dan audit dapur secara menyeluruh. Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket, Hanan Jalil, menyebutkan bahwa meskipun produksi makanan diliburkan, sejumlah relawan tetap bekerja dalam sistem shift untuk merawat fasilitas dapur. Dengan demikian, relawan tetap mendapatkan hak upah mereka.

Namun, kebijakan ini tidak lepas dari kritik. Kepala Staf Kepresidenan, Dudung Abdurrahman, menerima audiensi dari perwakilan massa yang menginginkan penjelasan tentang dampak negatif yang ditimbulkan akibat penutupan dapur MBG. Banyak relawan dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merasa terpengaruh secara ekonomi karena tidak ada permintaan bahan baku selama masa libur.

Dudung menjelaskan bahwa meskipun BGN menghentikan sementara MBG selama libur sekolah, pemerintah tetap berkomitmen pada keberlanjutan program tersebut. Langkah ini dianggap perlu untuk memperbaiki tata kelola program agar lebih efektif dan akuntabel. Dengan rencana refocusing penerima manfaat, diharapkan program MBG dapat memberikan dampak yang lebih optimal bagi kelompok-kelompok prioritas.

Keputusan untuk menghentikan sementara MBG selama libur sekolah jelas memiliki dampak luas, baik bagi relawan yang terlibat maupun bagi masyarakat yang bergantung pada program ini. Meskipun langkah ini diambil untuk efisiensi anggaran, penting untuk memastikan bahwa keberlanjutan program tetap terjaga agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak yang membutuhkan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.