Sorot Indonesia – Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah memicu beragam tanggapan dari orangtua siswa di Surabaya. Gapembi klarifikasi soal penolakan penghentian MBG selama libur sekolah [titlebase] di tengah kebijakan baru pemerintah yang mendasari keputusan tersebut. Sementara sebagian orangtua memahami alasan di balik penghentian ini, ada pula yang menyuarakan keprihatinan terhadap kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Sejumlah orangtua di Surabaya telah menyatakan bahwa mereka mendukung keputusan pemerintah tersebut. Mereka beralasan, selama masa liburan, anak-anak lebih banyak berada di rumah dan kebutuhan makanan dapat dipenuhi oleh keluarga. Namun, tidak sedikit pula yang menekankan pentingnya keberlanjutan program MBG, mengingat tidak semua keluarga mampu menyediakan makanan bergizi setiap hari.

Baca juga:

Lestari, seorang wali murid, mengungkapkan bahwa keluarganya tidak lagi menerima MBG selama libur sekolah. Ia menjelaskan, kali ini pihak sekolah juga tidak meminta orangtua untuk datang mengambil makanan. “Saya memahami kebijakan ini, tetapi saya khawatir tentang keberlanjutan gizi anak-anak yang terjamin oleh program ini,” ujarnya.

Di sisi lain, Gapembi Sumatera Barat menanggapi penghentian sementara dapur MBG sebagai langkah yang bertentangan dengan skema kerja sama yang telah disepakati. Ketua Gapembi Sumbar, Agung Adhitya Lingga, mengungkapkan bahwa penghentian ini dapat menimbulkan masalah terhadap perjanjian kerja sama sebelumnya dengan Badan Gizi Nasional (BGN). “Kami mengikuti kebijakan tersebut, tetapi ada benturan dengan perjanjian kerja sama yang telah ada,” katanya.

Agung menjelaskan bahwa dalam perjanjian tersebut terdapat skema pengembalian modal kepada mitra sebesar Rp 6 juta per hari selama 313 hari dalam setahun, yang merupakan bagian dari biaya investasi untuk membangun fasilitas dapur. Kebijakan penghentian ini, menurutnya, berpotensi merugikan para mitra penyelenggara dapur.

Selain itu, pengamat politik dan kebijakan publik, Nazar El Mahfudzi, juga menyarankan agar BGN melibatkan pemerintah daerah dan mitra pelaksana dalam proses evaluasi kebijakan ini. Ia menekankan bahwa kebutuhan gizi anak, balita, dan ibu hamil tidak berhenti hanya karena libur sekolah. “Kebijakan ini perlu ditinjau kembali secara proporsional berdasarkan kondisi lapangan dan kelompok sasaran penerima manfaat,” ujarnya.

Berdasarkan hasil verifikasi, kabar yang menyatakan bahwa program MBG tetap beroperasi selama libur sekolah ternyata tidak benar. Informasi ini tersebar di media sosial, namun telah dikonfirmasi sebagai hoaks. Dengan demikian, masyarakat diharap tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat ini.

Melihat berbagai tanggapan yang ada, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mengevaluasi kembali kebijakan penghentian sementara MBG. Program ini seharusnya tetap berjalan dengan memperhatikan kebutuhan gizi anak-anak, meskipun dalam masa libur sekolah. Dengan demikian, tujuan utama dari program Makan Bergizi Gratis dalam meningkatkan kualitas gizi di masyarakat tetap dapat tercapai.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.